Peaky Blinders: The Immortal Man Berdasarkan Perintah Peaky Blinders, Kami Kecewa

1 bulan ago · Updated 1 bulan ago

Empat tahun. Itulah lamanya para penggemar Peaky Blinders di seluruh dunia menunggu kelanjutan kisah Tommy Shelby setelah akhir yang begitu memuaskan di musim keenam yang tayang pada 2022. Empat tahun penuh spekulasi, teori penggemar, dan harapan bahwa film penutup yang dijanjikan akan memberikan penutup epik yang sebanding dengan warisan serial BBC terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah drama period Inggris abad ke-21.

Kini, penantian itu telah berakhir. Peaky Blinders: The Immortal Man telah hadir di Netflix, dan kabar buruknya: ini bukan kepulangan yang kita impikan. Ini adalah sebuah film yang — dengan segala niat baik yang mungkin ada di baliknya  berhasil merusak warisan salah satu serial drama terbaik yang pernah diproduksi Inggris, hanya dalam waktu kurang dari dua jam.

Ulasan ini ditulis dengan berat hati. Sebagai penggemar yang sudah mengikuti perjalanan keluarga Shelby dari Birmingham sejak musim pertama tayang pada 2013, menyaksikan The Immortal Man adalah pengalaman yang bisa digambarkan dengan satu kata: menyedihkan. Dan bukan menyedihkan dalam arti dramatis yang biasanya membuat drama bagus terasa berharga melainkan menyedihkan dalam arti kelam, tanpa resolusi, dan mengecewakan.

Dalam artikel ulasan mendalam ini, kami akan membedah setiap aspek dari film ini: cerita, penampilan para aktor, estetika visual, musik, dan yang paling penting, bagaimana film ini menempatkan diri dalam konteks warisan Peaky Blinders secara keseluruhan. Kami juga akan memberikan perspektif tentang apa yang seharusnya bisa dilakukan dengan lebih baik, dan apa artinya film ini bagi masa depan franchise Peaky Blinders.

DATA FILM: Peaky Blinders: The Immortal Man (2026)

Platform: Netflix | Sutradara: TBA | Penulis: Steven Knight | Pemeran Utama: Cillian Murphy (Tommy Shelby), Barry Keoghan (Duke Shelby), Rebecca Ferguson (Kaulo), Sophie Rundle (Ada Shelby) | Setting: Birmingham & London, 1940 | Genre: Period Drama, Thriller | Rating TechInsight: 4.5/10

Kilas Balik: Dari Mana Peaky Blinders Berasal?

Warisan Serial BBC yang Legendaris

Peaky Blinders pertama kali hadir di layar kaca pada September 2013 di BBC Two, dan dalam waktu singkat berkembang menjadi fenomena budaya yang melampaui batas-batas geografis Inggris. Serial karya Steven Knight ini mengisahkan keluarga Shelby — sebuah geng kriminal dari Birmingham pasca-Perang Dunia Pertama — dengan tingkat kedalaman karakter, kecerdasan dialog, dan estetika visual yang tidak lazim untuk serial kriminal period drama saat itu.

Apa yang membuat Peaky Blinders istimewa sejak awal adalah pendekatannya yang berani dalam memadukan berbagai elemen yang tampaknya tidak serasi: musik modern dari band-band seperti Nick Cave & The Bad Seeds, PJ Harvey, dan Arctic Monkeys dipadukan dengan setting tahun 1920-an. Gaya busana yang stylish dan sangat modern dalam sensibilitasnya diterapkan dalam konteks historis yang detail. Dan di tengah semua itu, ada Tommy Shelby — salah satu karakter fiksi paling kompleks, karismatik, dan tragis yang pernah hadir di televisi.

Selama enam musim dari 2013 hingga 2022, kita menyaksikan Tommy Shelby berevolusi dari seorang pemimpin geng lokal yang traumatik akibat perang menjadi seorang industrialis, politisi, dan akhirnya seorang pria yang berjuang dengan warisan moralnya sendiri. Setiap musim membawa konflik baru yang lebih besar, dari konfrontasi dengan gangster Yahudi Alfie Solomons (Tom Hardy) hingga pertarungan dengan fasisme Eropa yang mengancam dunia. Dan sepanjang perjalanan itu, Cillian Murphy memberikan salah satu penampilan akting paling konsisten dan mendalam dalam sejarah televisi.

Akhir Musim Enam: Penutup yang Sempurna

Musim keenam dan terakhir Peaky Blinders, yang tayang pada 2022, memberikan sesuatu yang jarang berhasil dilakukan oleh serial drama panjang: sebuah penutup yang sungguh memuaskan. Tommy Shelby, setelah ditipu untuk mempercayai bahwa dirinya sedang sekarat akibat sifilis (yang ternyata merupakan kebohongan), akhirnya menemukan sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan atas musuh-musuhnya: kedamaian dan pengampunan.

Tommy menemukan dokter yang telah menipunya dan mendapat kesempatan untuk membalasnya. Namun alih-alih melakukan balas dendam — seperti yang akan dilakukan Tommy Shelby versi muda — ia memilih untuk tidak membunuh. Dalam momen itu, warisan Tommy Shelby berubah selamanya. Ia bukan lagi semata-mata seorang gangster yang telah menjadi pebisnis. Ia adalah seorang manusia yang telah belajar tentang pengampunan.

Ini adalah akhir yang tepat. Ini adalah akhir yang layak bagi karakter sekompleks Tommy Shelby. Dan inilah mengapa banyak penggemar — termasuk penulis ulasan ini — merasa bahwa The Immortal Man seharusnya tidak perlu ada.

Perjalanan Tommy Shelby dari Season 1 (2013) hingga The Immortal Man (2026): kurva dramatis yang harusnya berakhir di S6

Sinopsis: Apa yang Terjadi dalam The Immortal Man?

Setting 1940: Perang Dunia Kedua sebagai Latar

The Immortal Man membawa kita melompat ke tahun 1940, hampir satu dekade setelah akhir musim keenam. Dunia sedang dalam cengkeraman Perang Dunia Kedua, dan keluarga Shelby kini terlihat sangat berbeda dari kejayaan mereka di era-era sebelumnya. Banyak anggota geng yang kita kenal dan cintai sudah tidak ada, baik karena kematian maupun karena perjalanan hidup masing-masing membawa mereka ke arah yang berbeda.

Konflik utama film ini berpusat pada Duke Shelby (Barry Keoghan), putra sulung Tommy yang kini sudah dewasa. Duke terlibat dalam sebuah skema berbahaya: membantu distribusi uang palsu milik Nazi di seluruh Inggris, mengumpulkan kekayaan senilai £70 juta dalam prosesnya. Ini adalah pengkhianatan yang tidak hanya terhadap negara, tetapi juga terhadap nilai-nilai yang — seburuk apapun caranya — pernah menjadi fondasi keluarga Shelby.

Untuk menghentikan Duke dan mencegah bencana yang lebih besar, Kaulo (Rebecca Ferguson), bibi Duke, dan Ada Shelby (Sophie Rundle), adik Tommy, berusaha membujuk Tommy yang sudah menyepi untuk kembali ke Birmingham dan turun tangan. Mayoritas bagian pertama film ini adalah Tommy yang terus-menerus menolak untuk kembali, dalam dialog berulang yang terasa seperti rekaman yang macet.

Struktur Tiga Babak yang Tidak Seimbang

Struktur naratif The Immortal Man bisa dibagi menjadi tiga bagian yang sangat tidak seimbang dalam hal kualitas dan energi:

  • Babak Pertama (45 Menit): Tommy berulang kali mengatakan "Tidak, aku tidak bisa kembali ke Birmingham." Ini adalah 45 menit yang terasa sangat panjang dan melelahkan, dengan tempo yang sangat lambat dan nyaris tanpa momen yang menarik.
  • Babak Kedua (25 Menit): Ini adalah bagian terbaik dari seluruh film. Tommy akhirnya beraksi, dengan deretan adegan perkelahian dan konfrontasi yang mengingatkan kita pada kejayaan Tommy Shelby yang pernah kita kenal. Sayangnya, 25 menit jauh terlalu singkat dan terasa seperti hanya penghias belaka.
  • Babak Ketiga (40 Menit): Kembali ke kesuraman. Film berakhir secara tiba-tiba, menyedihkan, dan tanpa resolusi yang memuaskan bagi karakter-karakter yang sudah kita ikuti selama hampir satu dekade.

Kesenjangan kualitas antara babak kedua dengan babak pertama dan ketiga sangat mencolok. Seolah ada dua film berbeda yang dipaksakan menjadi satu: film aksi Tommy Shelby yang sebenarnya ingin kita tonton, dan film drama eksistensial yang kelam yang tampaknya ingin ditulis oleh Steven Knight.

Masalah Utama: Tommy Shelby yang Tidak Kita Kenal

Regresi Karakter yang Menyakitkan

Inti dari semua kekecewaan terhadap The Immortal Man adalah apa yang terjadi pada karakter Tommy Shelby. Selama enam musim, kita menyaksikan Tommy tumbuh, berkembang, mengalami trauma, membangun kembali dirinya, dan akhirnya mencapai semacam kedamaian yang earned. Proses itu membutuhkan waktu nyaris satu dekade narasi dan ratusan jam penayangan.

Dan kemudian The Immortal Man memutuskan untuk — pada dasarnya — mereset sebagian besar perkembangan karakter tersebut. Tommy yang kita temui di awal film ini adalah pria yang diliputi keraguan, tidak yakin dengan dirinya sendiri, tidak termotivasi, dan secara umum sangat tidak menyerupai karakter yang membuat jutaan penonton jatuh cinta pada serial ini.

Ada alasan dalam cerita yang diberikan untuk kondisi Tommy ini, dan alasan tersebut terungkap dalam 20 menit pertama film. Namun memahami mengapa Tommy menjadi seperti ini tidak membuat menonton 45 menit pertamanya yang lamban menjadi lebih menyenangkan. Sebuah karakter yang secara akademis masuk akal dalam konteks naratif tetap bisa menjadi karakter yang membosankan untuk ditonton, dan itulah yang terjadi di sini.

Para penggemar yang sudah lama menunggu comeback spektakuler Tommy Shelby — ingin melihat energi eksplosif yang sama seperti pada musim-musim terbaik serial ini — hanya mendapatkan 25 menit dari 110 menit total durasi film. Sisanya adalah padang pasir yang kelam dan monoton.

Terlalu Banyak Karakter Baru, Terlalu Sedikit Wajah Lama

Salah satu kekuatan terbesar Peaky Blinders sebagai serial adalah ensemble karakternya yang kaya. Kita sangat peduli pada nasib Polly Gray, Arthur Shelby, John Shelby, Alfie Solomons, dan semua karakter pendukung yang telah kita kenal selama bertahun-tahun. Kepedulian emosional itu dibangun dengan hati-hati dan konsisten selama enam musim.

Namun The Immortal Man memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktunya pada karakter-karakter baru atau karakter-karakter yang sebelumnya hanya muncul di latar belakang. Stephen Graham — aktor luar biasa yang karakternya selalu dinantikan penonton — hanya muncul di layar selama kurang lebih 5 menit. Lima menit! Ini adalah pemborosan bakat yang sangat disayangkan.

Pada saat film berakhir, sebagian besar karakter yang tersisa di layar adalah orang-orang yang belum kita bangun koneksi emosional yang cukup dengannya. Ini adalah masalah yang sangat serius, terutama mengingat bahwa BBC kabarnya berencana mengembangkan serial kelanjutan berbasis karakter-karakter baru ini. Fondasi emosional untuk serial tersebut hampir tidak ada.

Kelebihan dan kekurangan Peaky Blinders: The Immortal Man — secara keseluruhan kekurangan jauh lebih berat

Barry Keoghan sebagai Duke: Potensi yang Tidak Terealisasi

Masalah "iPhone Haircut"

Barry Keoghan adalah salah satu aktor paling berbakat generasinya, dengan rekam jejak yang mencakup Saltburn, The Banshees of Inisherin, Eternals, Master of the Air, dan akan segera bermain dalam empat film tentang The Beatles. Potensinya tidak perlu diragukan. Namun casting-nya sebagai Duke Shelby dalam The Immortal Man menghadirkan masalah yang unik dan cukup menggelikan.

Dalam dunia period drama, ada istilah yang cukup dikenal: "iPhone face" — menggambarkan seseorang yang penampilannya begitu modern sehingga sulit dipercaya sebagai bagian dari cerita yang berlatar masa lalu. Ulasan asli TechRadar oleh Jasmine Valentine menciptakan istilah baru yang sangat tepat untuk kasus Keoghan: "iPhone haircut".

Keoghan tampil dengan potongan rambut fade yang sangat trendi dan sejumlah besar tato berbentuk stiker — keduanya sangat identik dengan estetika tahun 2020-an dan sama sekali tidak cocok dengan Birmingham tahun 1940. Setiap kali Keoghan muncul di layar, kita diingatkan bahwa kita sedang menonton aktor abad ke-21 yang bermain di film period drama, bukan seorang putra Birmingham di era Perang Dunia Kedua.

Ini bukan sepenuhnya salah Keoghan. Departemen kostum dan makeup jelas membuat keputusan yang meragukan dalam penanganan karakternya. Dan jika memang ada arahan eksplisit untuk membuatnya terlihat seperti itu, maka pertanyaan tentang mengapa keputusan itu dibuat adalah pertanyaan yang sangat valid.

Ancaman Sequel yang Tidak Meyakinkan

Kekhawatiran terbesar tentang casting Keoghan sebagai Duke Shelby adalah implikasinya untuk masa depan franchise. Jika BBC memang berencana mengembangkan serial kelanjutan yang berfokus pada karakter-karakter baru termasuk Duke, The Immortal Man seharusnya berfungsi sebagai perkenalan yang meyakinkan dan mengundang penonton untuk ingin tahu lebih banyak tentang mereka.

Namun The Immortal Man gagal melakukan hal ini. Alih-alih membuat kita penasaran dan antusias dengan generasi Shelby berikutnya, film ini justru meninggalkan kita dengan perasaan acuh tak acuh. Duke Shelby di film ini adalah karakter yang belum cukup dikembangkan untuk menjadi pusat dari sebuah serial yang berdiri sendiri. Jika BBC tetap memaksakan serial kelanjutan dengan fondasi yang lemah ini, kemungkinan besar hasilnya akan mengecewakan.

Yang Berhasil: Cahaya di Tengah Kegelapan

Penghormatan kepada Helen McCrory

Di antara semua yang mengecewakan dalam The Immortal Man, ada momen-momen yang sungguh menyentuh hati: berbagai penghormatan kepada mendiang Helen McCrory, aktris luar biasa yang memerankan karakter Polly Gray dan meninggal dunia pada April 2021 akibat kanker. Kehilangan McCrory adalah duka yang sangat dalam bagi seluruh cast, kru, dan penggemar Peaky Blinders, dan film ini memberikan penghormatan yang tulus kepadanya.

Momen-momen ini adalah yang paling emosional dan paling authentic dalam seluruh film. Ketika para karakter mengingat Polly, kita sebagai penonton juga ikut merasakan kehilangan itu — kehilangan karakter yang luar biasa sekaligus aktris yang luar biasa. Ini adalah bagian dari film yang terasa genuinely earned secara emosional.

Pencahayaan Sinematografi Terbaik Netflix

Salah satu aspek teknis yang mendapat pujian sangat layak dalam The Immortal Man adalah sinematografi dan pencahayaannya. Netflix memiliki reputasi yang kurang baik dalam hal pencahayaan film dan serial mereka, dengan banyak produksi yang terlihat terlalu terang, terlalu steril, atau memiliki warna yang terasa artifisial.

The Immortal Man adalah pengecualian yang sangat menyenangkan. Pencahayaan film ini menangkap nuansa Birmingham tahun 1940 dengan sangat indah — gelap, berkabut, penuh bayangan, namun dengan aksen cahaya kuning keemasan yang membuat setiap frame terasa seperti lukisan. Ini mungkin adalah pencahayaan terbaik dalam produksi Netflix yang pernah ada, dan sinematografer yang bertanggung jawab layak mendapat penghargaan atas pencapaian ini.

Soundtrack yang Tetap Memukau

Salah satu signature terkuat Peaky Blinders sejak musim pertama adalah penggunaan musiknya yang brilian: musik modern yang kontras dengan setting historisnya. The Immortal Man mempertahankan tradisi ini dengan sangat baik. Pemilihan lagu-lagu yang digunakan dalam film ini — terutama dalam adegan-adegan aksi di babak kedua — sangat tepat dan memberikan energi yang sangat dibutuhkan oleh narasi yang secara keseluruhan cukup lesu.

Soundtrack adalah salah satu dari sedikit aspek The Immortal Man yang bisa dinikmati tanpa catatan. Dalam hal ini, warisan musikal Peaky Blinders tetap terjaga dengan sangat baik.

Perbandingan rating semua season Peaky Blinders: film 2026 jatuh jauh di bawah standar serial aslinya

Cillian Murphy: Seorang Pemenang Oscar yang Pantas Mendapat Lebih

Post-Oppenheimer: Beban Ekspektasi yang Besar

Ketika Cillian Murphy memenangkan Academy Award untuk Aktor Terbaik pada Maret 2024 atas perannya sebagai J. Robert Oppenheimer dalam film Oppenheimer karya Christopher Nolan, ia mencapai puncak pengakuan artistik tertinggi yang bisa diraih seorang aktor di dunia. Kemenangannya adalah salah satu Oscar yang paling diapresiasi secara universal dalam beberapa tahun terakhir — Murphy benar-benar layak mendapatkannya.

Namun kemenangan Oscar itu juga menjadikannya target ekspektasi yang lebih tinggi. Ketika Murphy kemudian mengonfirmasi bahwa ia akan kembali sebagai Tommy Shelby dalam The Immortal Man, ekspektasi penonton meledak. Ini bukan lagi hanya aktor favorit yang kembali ke peran ikoniknya — ini adalah pemenang Oscar yang kembali ke peran yang paling mendefinisikan kariernya sebelum Oppenheimer.

Penampilan Murphy: Profesional tapi Terkendala Material

Cillian Murphy melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan dengan material yang diberikan kepadanya. Ketika cerita memungkinkannya untuk benar-benar menjadi Tommy Shelby — dalam 25 menit babak kedua yang singkat itu — kilasan kejeniusan aktingnya sangat terlihat. Tatapan mata, gestur tubuh, cara berbicara yang khas: semuanya masih ada, masih setajam dulu.

Namun untuk sebagian besar film, Murphy harus memainkan versi Tommy Shelby yang tidak aktif, ragu-ragu, dan tertekan. Ini adalah pilihan naratif yang sah secara artistik, tetapi bukan pilihan yang membuat film menyenangkan untuk ditonton. Penulis merasa duka bahwa Murphy harus kembali ke peran ini — setelah meraih puncak kariernya dengan Oppenheimer — hanya untuk diberikan material yang kurang layak untuk bakatnya.

Konteks Produksi: Mengapa Film Ini Terasa seperti Kewajiban?

Obligation Ending: Janji yang Harus Dipenuhi

Salah satu frasa yang paling tepat untuk menggambarkan The Immortal Man adalah "obligation ending" — sebuah akhiran yang dibuat bukan karena ada cerita yang sungguh-sungguh perlu diceritakan, melainkan karena ada janji yang harus dipenuhi. Ketika musim keenam berakhir pada 2022, BBC dan Steven Knight sudah mengumumkan bahwa film penutup sedang dalam pengembangan. Penonton sudah diberi ekspektasi. Studio sudah berkomitmen.

Ketika sebuah proyek kreatif harus dibuat karena kewajiban daripada karena inspirasi, hasilnya sangat jarang memuaskan. The Immortal Man terasa seperti sebuah film yang dibuat karena harus ada, bukan karena Steven Knight atau siapapun di balik layar memiliki cerita yang benar-benar membakar semangat mereka untuk diceritakan.

Ambisi Franchise yang Terlalu Jelas

Ada satu agenda yang sangat transparan dalam The Immortal Man: membangun fondasi untuk serial kelanjutan. BBC kabarnya sedang mengembangkan serial baru yang akan berfokus pada generasi Shelby berikutnya, dan The Immortal Man jelas dirancang — setidaknya sebagian — untuk memperkenalkan karakter-karakter yang akan menjadi pusat dari serial tersebut.

Masalahnya adalah ambisi franchise ini terasa terlalu nyata dan mengganggu kesinambungan cerita. Daripada fokus pada memberikan penutup yang memuaskan untuk karakter-karakter yang sudah kita kenal, film ini terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memperkenalkan karakter-karakter baru yang diharapkan akan menarik penonton untuk menonton serial berikutnya. Hasilnya adalah film yang gagal melayani kedua tujuannya dengan baik.

9. Peaky Blinders dalam Konteks Global: Warisan yang Harus Dijaga

Pengaruh Peaky Blinders pada Budaya Pop Global

Sebelum The Immortal Man hadir dan memperumit warisannya, Peaky Blinders sebagai serial telah memberikan kontribusi yang luar biasa pada budaya pop global. Di luar Inggris, serial ini memiliki basis penggemar yang besar di hampir setiap benua, termasuk di Asia Tenggara dan Indonesia.

Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada hiburan semata. Estetika Peaky Blinders — terutama gaya berpakaiannya, termasuk topi newsboy, setelan bertiga, dan rantai jam saku — memengaruhi tren fashion global secara signifikan. Banyak pria di seluruh dunia yang mulai mengadopsi elemen-elemen estetika tahun 1920-an ke dalam gaya berpakaian kontemporer mereka, sebagian besar terinspirasi oleh Peaky Blinders.

Di Indonesia, Peaky Blinders memiliki penggemar setia yang mengikuti setiap musimnya dengan antusias. Diskusi tentang serial ini di media sosial Indonesia sangat aktif, dan banyak penggemar yang sudah menantikan The Immortal Man dengan harapan tinggi. Sayangnya, kekecewaan yang dirasakan oleh penggemar global tampaknya juga dirasakan oleh penggemar Indonesia.

Pelajaran dari Kegagalan The Immortal Man

Terlepas dari kekecewaan yang dibawa oleh The Immortal Man, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman ini, baik bagi industri hiburan maupun bagi penonton:

  1. Jangan Paksa Kelanjutan Jika Ceritanya Sudah Selesai: Musim keenam Peaky Blinders memberikan penutup yang memuaskan. Memaksakan film kelanjutan tanpa cerita yang benar-benar kuat adalah resep untuk kekecewaan.
  2. Franchise Bukan Segalanya: Keinginan untuk membangun franchise yang menghasilkan pendapatan jangka panjang seharusnya tidak mengompromikan integritas cerita.
  3. Penonton Sangat Menghargai Konsistensi Karakter: Ketika karakter yang sudah berkembang selama bertahun-tahun direset atau diubah secara drastis tanpa justifikasi yang kuat, penonton akan merasakannya sebagai pengkhianatan.
  4. Casting yang Tepat untuk Period Drama Membutuhkan Perhatian Ekstra: Masalah "iPhone haircut" Barry Keoghan seharusnya teridentifikasi dan diselesaikan jauh sebelum kamera mulai berputar.

Kesimpulan: Nonton atau Tidak?

Rekomendasi Kami

Peaky Blinders: The Immortal Man adalah film yang sangat sulit untuk direkomendasikan kepada penggemar setia Peaky Blinders. Bagi orang yang belum pernah menonton serialnya, film ini jelas bukan titik awal yang baik — Anda akan kebingungan dan kemungkinan tidak terkesan. Bagi penggemar yang sudah melalui enam musim bersama keluarga Shelby, film ini mungkin wajib ditonton demi rasa penasaran, namun siapkan diri untuk kekecewaan.

Saran terbaik kami: Tonton trailernya terlebih dahulu. Jika Anda merasa trailer sudah memberikan semua yang Anda butuhkan dari film ini — yang kemungkinan besar memang demikian, karena trailer menampilkan hampir semua momen terbaik — maka Anda mungkin sudah mendapatkan pengalaman optimal dari The Immortal Man tanpa harus meluangkan waktu untuk menonton filmnya.

Kemudian, tonton ulang season 1-6 Peaky Blinders dari awal. Rayakan warisan luar biasa dari serial yang pernah menjadi salah satu tontonan terbaik yang pernah diproduksi. Dan kenang Tommy Shelby sebagaimana seharusnya ia dikenang: sebagai gangster brilian dari Birmingham yang belajar tentang pengampunan, bukan sebagai pria tua yang ragu-ragu di tengah Perang Dunia Kedua.

VONIS FINAL: Peaky Blinders: The Immortal Man

SKOR: 4.5 / 10 | UNTUK SIAPA: Penggemar fanatik yang harus menuntaskan rasa penasaran | BUKAN UNTUK: Yang ingin kenangan indahnya tentang Peaky Blinders tetap utuh | TONTON JIKA: Anda siap kecewa dan ingin melihat 25 menit Tommy Shelby terbaik + tribute Helen McCrory | LEWATI JIKA: Anda ingin kenangan Peaky Blinders tetap terjaga indah | SARAN: Tonton trailer, lalu marathon Season 1-6.

FAQ – Peaky Blinders: The Immortal Man

1. Apa itu Peaky Blinders: The Immortal Man?
Peaky Blinders: The Immortal Man adalah film yang melanjutkan kisah dari serial populer Peaky Blinders. Film ini menjadi kelanjutan cerita setelah Season 6 dan kembali berfokus pada perjalanan karakter Tommy Shelby.

2. Siapa pemeran utama dalam film ini?
Film ini kembali dibintangi oleh Cillian Murphy sebagai Tommy Shelby, bersama beberapa karakter lama dan tambahan karakter baru yang memperluas cerita keluarga Shelby.

3. Apakah film ini merupakan akhir dari cerita Peaky Blinders?
Film ini dirancang sebagai kelanjutan besar dari serialnya, namun kreator Steven Knight pernah memberi sinyal bahwa dunia Peaky Blinders mungkin masih berlanjut dengan proyek lain di masa depan.

4. Kapan Peaky Blinders: The Immortal Man dirilis?
Film ini dijadwalkan rilis pada tahun 2026 dan menjadi salah satu proyek paling dinantikan oleh penggemar serial Peaky Blinders.

5. Apakah perlu menonton serial Peaky Blinders sebelum film ini?
Sangat disarankan menonton serialnya terlebih dahulu karena film ini melanjutkan alur cerita yang terjadi setelah Season 6.

6. Di mana bisa menonton Peaky Blinders: The Immortal Man?
Film ini diperkirakan akan tersedia melalui platform streaming seperti Netflix, mengikuti popularitas serialnya yang juga tayang di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Go up